Warso asyik menghisap rokok dari kumpulan putung rokok, sembari menertawai orang-orang yang mau berangkat ke Musholla…, banyak yang bilang Warso gila karena banyak memepelajari ilmu-ilmu sesat, sehingga nggak kuat…terus jadinya gramyang di jalan-jalan.
“hehe..mau kemana lek,, mau ketemu Tuhan… salam ya..”
“ oow… wong edan..!!! “Ehh ..tak gebukin pye..!!!” Kang Ngarji..jengkel…mendengar ucapan..Warso..
Untung ada Pak Bayan yang mencegah tangan Kang Ngarji…
“hehe kamu telah memasung Tuhan..” Warso nyrocos terus di depan Kang Ngarji. Pak Bayan.. jadi ikut-ikutan panas, tapi mencoba ditahan..
“heh…Atap musholla kamu salah Seharusnya gak usah ada tulisan Allah, sebab Allah maha kuat dan berdiri sendiri, mengapa di kasih pipa penyangga, kamu meremehkan kekuasaan Tuhan…”
“Terus diganti apa..?” Pak Bayan dan Kang Ngarji spontan balik bertanya pada Warso.
Warso malah ketawa ngakak melihat Pak Bayan dan kang Ngarji ikut2an sableng.
“Ganti sama Kepala kerbau, sapi, kambing, ketela, padi apa Sepeda Montor..saja.. hehe… seperti apa yang ada di dalam kepalamu sekarang ini…”
LinggaBrata WastunirwendaHa..Ha...Tulisan jadi terkultuskan...Yo ben toch, pemahamanannya kan baru sampai disana, sing waras aja ribut, yen ribut pada sablenge...
Lelaki setengah baya dengan baju compang-camping sedang mondar-mandir di depan gapura masjid. Sebentar-bentar melihat ke atas.. tongkat dan sebuah buntalan sampah-sampah masih tergeletak di pojok pagar pembatas masjid…
Mungkin ia terbangun ketika adzan berkumandang terlalu nyaring.. sehingga ia terjaga”. Tangannya mengepal kepada orang-orang di masjid. Mulutnya keluar kata-kata umpatan, caci maki.. namun semua tak memperdulikannya kecuali Ustad Jamil yang sedari tadi melihat dari kejauhan, mau apa gerangan lelaki itu…
“Percuma kau panggil keras-keras..sebab Tuhan .... enggan bertemu dengan kalian…”
“Bagaimana Pak Ustad ia membawa batu, kalau dilemparkan ke masjid gimana?”
“Kita tangkap rame-rame aja ..terus…?” para murid Ustad Jamil gondok lihat prilaku orang gila itu..
Orang gila itu berkacak pinggang, berdiri di atas pagar masjid
“…tempat sholat bukan disitu..tapi disini nih…” jari telunjuk orang gila menunjuk dada sebelah kirinya
“ Percuma kalian sholat kalau gak tahu tempatmu berdo’a sebenarnya..!!”
Ustad Jamil mendekati orang gila itu dengan suara lembut menyuruhnya turun..
“Ya…. Tuhan ada dimana-mana bukan disitu saja” Ustad Jamil mencoba merayu..nya turun. Orang gila menurut kata-kata Ustad Jamil.
Saoedara-saoedara ra’jat djelata di seloeroeh Indonesia,
teroetama, saoedara-saoedara pendoedoek kota Soerabaja
Kita semoeanja telah mengetahoei bahwa hari ini tentara Inggris telah menjebarkan pamflet-pamflet jang memberikan soeatoe antjaman kepada kita semoea.
Kita diwadjibkan oentoek dalam waktoe jang mereka tentoekan, menjerahkan sendjata-sendjata jang kita reboet dari tentara djepang.
Mereka telah minta supaja kita datang pada mereka itoe dengan mengangkat tangan.
Mereka telah minta supaja kita semoea datang kepada mereka itoe dengan membawa bendera poetih tanda menjerah kepada mereka.
Saoedara-saoedara,
didalam pertempoeran-pertempoeran jang lampaoe, kita sekalian telah menundjukkan bahwa
ra’jat Indonesia di Soerabaja
pemoeda-pemoeda jang berasal dari Maloekoe,
pemoeda-pemoeda jang berasal dari Soelawesi,
pemoeda-pemoeda jang berasal dari Poelaoe Bali,
pemoeda-pemoeda jang berasal dari Kalimantan,
pemoeda-pemoeda dari seloeroeh Soematera,
pemoeda Atjeh, pemoeda Tapanoeli & seloeroeh pemoeda Indonesia jang ada di Soerabaja ini,
didalam pasoekan-pasoekan mereka masing-masing dengan pasoekan-pasoekan ra’jat jang dibentuk di kampoeng-kampoeng,
telah menoenjoekkan satoe pertahanan jang tidak bisa didjebol,
telah menoenjoekkan satoe kekoeatan sehingga mereka itoe terdjepit di mana-mana
Hanja karena taktik jang litjik daripada mereka itoe, saoedara-saoedara
Dengan mendatangkan presiden & pemimpin-pemimpin lainnja ke Soerabaja ini, maka kita toendoek oentoek menghentikan pertempoeran.
Tetapi pada masa itoe mereka telah memperkoeat diri, dan setelah koeat sekarang inilah keadaannja.
Saoedara-saoedara, kita semuanja, kita bangsa Indonesia jang ada di Soerabaja ini akan menerima tantangan tentara Inggris ini.
Dan kalaoe pimpinan tentara Inggris jang ada di Soerabaja ingin mendengarkan djawaban ra’jat Indonesia,
ingin mendengarkan djawaban seloeroeh pemoeda Indonesia jang ada di Soerabaja ini
Dengarkanlah ini hai tentara Inggris,
ini djawaban ra’jat Soerabaja
ini djawaban pemoeda Indonesia kepada kaoe sekalian
Hai tentara Inggris!,
kaoe menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera poetih takloek kepadamoe,
menjuruh kita mengangkat tangan datang kepadamoe,
kaoe menjoeroeh kita membawa sendjata-sendjata jang kita rampas dari djepang oentoek diserahkan kepadamoe
Toentoetan itoe walaoepoen kita tahoe bahwa kaoe sekalian akan mengantjam kita oentoek menggempoer kita dengan seloeroeh kekoeatan jang ada,
Tetapi inilah djawaban kita:
Selama banteng-banteng Indonesia masih mempoenjai darah merah jang dapat membikin setjarik kain poetih mendjadi merah & putih,
maka selama itoe tidak akan kita maoe menjerah kepada siapapoen djuga!
Saoedara-saoedara ra’jat Soerabaja,
siaplah keadaan genting
tetapi saja peringatkan sekali lagi, djangan moelai menembak,
baroe kalaoe kita ditembak, maka kita akan ganti menjerang mereka itu.
Kita toendjoekkan bahwa kita adalah benar-benar orang jang ingin merdeka.
Dan oentoek kita, saoedara-saoedara, lebih baik kita hantjur leboer daripada tidak merdeka.
Sembojan kita tetap: MERDEKA atau MATI.
Dan kita jakin, saoedara-saoedara,
pada akhirnja pastilah kemenangan akan djatuh ke tangan kita
sebab Allah selaloe berada di pihak jang benar
pertjajalah saoedara-saoedara,
Toehan akan melindungi kita sekalian
Ray Vanrayberdayakan..... budayakan....berangkatkan......!! karena begitu banyak lembaga dengan berbagai nama, tp tujuannya gak jelas buat rakjat. Saya orang desa yg pengetahuan dan wawasannya terbatas. Jgn seperti lagu nasida ria: bingung...bingung....ku memikirkan! …[meh rak melu mikir kok ya eman2 pikirane!]
05 Agustus 2009 jam 0:06 ·
Muchid Ma'shumperjuangan, akan memiliki "ruh" dengan kepemimpinan pejuang sejati, disertai dengan landasan spiritual.
Ada Seorang anak kecil bernama Jupri, ia sangat suka sekali menggambar, ia menggambar apa saja yg dilihatnya, montor, mobil, pesawat, tank dsb.
suatu ketika Jupri kehabisan pensil dan kertas gambar, ia meminta ibunya (penjual jamu gendong) untuk membelikan pensil dan kertas, namun ibunya tidak mau kasih karena harganya sangat mahal Rp 5000 mending uangnya buat kebutuhan sehari-hari, Jupri pun merajuk ke ayahnya yang kelelahan, habis menarik becak
"gak usah beli..! sana pakai arang, corat-coretnya ditembok aja"
"gak mau ah.. Entar aku dimarahi tante RT"
Jupri putus asa karena semua pada acuh, kepada siapa lagi harus mengadu.
Ia teringat pesan Ustad ketika memberi ceramah pada ibu2 kompleks
"bila kita sedang kesusahan hendaklah kita memohon dan meminta kepada Tuhan"
Jupri sepertinya mendapat ide cemerlang, ia mengambil kertas bekas dan sepotong arang, ia menulis surat pada Tuhan kemudian ditaruhlah surat itu ke dalam amplop kertas bekas, ditulisi alamat:
Kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Sepanjang perjalanan Jupri selalu bertanya kepada setiap orang yang dijumpainya, ia bertanya "kamu tahu Rumah Tuhan dimana?" Jupri hampir putus asa,
Suatu ketika ia ketemu polisi lalu lintas yg sedang bertugas, polisi itu selalu membantu pengguna jalan, dan selalu menyebrangkan anak 2 pergi ke sekolah, Jupri membatin "wah ini ya pasti tahu rumah Tuhan ada dimana?"
dengan wajah yang innoncent & lugu Jupri bertanya?
"Pak polisi tahu rumah Tuhan ada dimana?" polisi itu menggeleng2kan kepala.
"kalau gitu aku, nitip ini ya pak, siapa tahu nanti ketemu sama Tuhan"
polisi heran, kemudian timbul keinginan tuk membuka & membaca isi surat itu,
"Tuhan berilah hambamu yang miskin ini rezeki, aku hanya minta uang Rp 5000 aja buat beli pensil sama kertas"
Pak polisi ketawa, dan terharu melihat kepolosan bocah itu, dia merogoh saku, mengabil uang kembalian dari warung ngopi tadi pagi, namun yang tersisa hanya tinggal Rp 3000 saja, namun demi si bocah agar tidak kecewa, polisi lalu memasukan uang itu ke amplop, dan diberikan kepada Jupri, betapa girangnya hati Jupri menerima surat balasan dari Tuhan, kemudian dibukanya pelan2, namun Jupri sedikit agak kecewa karna yg dimintanya kurang Rp 2000, kemudian ia tulis surat balasan kepada Tuhan, dan diberikan lagi kepada Polisi lalulintas,
"pak mau nitip surat lagi buat Tuhan"
Polisi semakin penasaran sama isi surat bocah itu, apa lagi yang akan diminta sama Tuhan. Alangkah terkejutnya pak polisi, ketika ia membaca surat itu
"Tuhan lain kali kalau nitip uang jangan sama pak polisi lagi..Ya..!"
(obrolan di Warung Kopi Independent Sekarjalak, 2009)
*cerita ini disadur dari mana entah asalnya... yang jelas dari obrolan Senja di Warung Kopi.
"untuk menjadi sufi yg bagus haruslah melewati empat tahapan; syareat, hakekat, Tarekat, Makrifat" kata Karjo usai ikuti pengajian rutinan.
Karmin pun tak kalah nyelemong yg habis Rapat Partai "untuk menjadi politikus yg pintar haruslah melewati empat tahapan; Main-main, Mainkan, Dipermainkan, Mempermainkan"
(Selamat ber PILKADAL: Pilihan Kepala Daerah Langsung)